Senin, 27 April 2015

LUCUNYA ANAK-ANAK; PERMUKAAN BERMINYAK


Teteh dan Aa (sebutan untuk siswa SD Chandra Buana) terdiam sejenak, mendengarkan teachernya bercerita tentang Maha Rahimnya Allah SWT kepada manusia.
“Sejak umur 4 bulan di dalam kandungan, calon manusia bumi sudah bisa merasakan sesuatu. Manusia dapat merasakan segala sesuatu, karena Allah mengkaruniakan kita indera perasa dan peraba. Begitulah manusia menjadi makhluk yang paling bahagia. Bayangkan jika lidah kita tidak bisa merasa, makanan atau minuman apapun yang lewat tidak akan nikmat. Tidak memilah makanan restoran yang mahal atau warteg yang murah meriah, tidak memilih minuman cafe atau warung kopi pinggir jalan,  tidak bisa membedakan mana air tawar atau asin, mana air panas atau dingin, semuanya sama rasanya. Beda jika lidah kita bisa merasa...nikmat sekali. Bayangkan jika kulit tubuh kita tidak bisa meraba, terguyur air hujan tidak terasa, tersengat matahari tidak panas padahal sudah hangus terbakar. Beda jika kulit tubuh kita bisa meraba, dapat mengetahui mana yang kasar, mana yang halus, semuanya terasa indah. Ayo coba kita praktikkan!”
Teteh dan Aa mencoba mempraktikkan karunia Allah tersebut dengan cara meraba pipi masing-masing, “ayo coba, halus atau kasar pipinya nak? Kemudian raba tembok ya...halus atau kasar permukaannya?, kemudian bandingkan antara pipi kamu dan tembok, mana yang lebih halus atau kasar?”
Terakhir teacher menugaskan teteh dan aa mencari tahu dan mencatat ciri-ciri benda dengan merabanya, apakah permukaannya halus atau kasar.
Waktu penugasan sudah berjalan beberapa menit, terlihat semua siswa sibuk meraba-raba benda di sekitar sekolah dengan telapak tangannya. Di saat yang bersamaan Teteh Naila dan Teteh Mutia menghampiri teacher (saya) dan tidak lupa membawa pensil dan lembar catatannya. Awalnya saya mengira mereka akan menunjukkan hasil tugasnya, setelah jarak mereka sangat dekat dengan saya, Teteh Naila mulai menggunakan telapak tangannya untuk “mengusap-usap” pipi saya (awas jangan porno). Sontak saya pun bertanya kepada mereka “bagaimana teteh, permukaan pipi teacher halus (jawaban yang saya harapkan) atau kasar (tidak diharapkan)?. Mereka menjawab : “nggak teacher, pipinya berminyak, iya minyak goreng”. “alamak, separah itukah pipi saya” sambil tersenyum bangga kepada mereka dan hampir tidak percaya dengan pipi saya, merekapun berlalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar