Teteh dan Aa
(sebutan untuk siswa SD Chandra Buana) terdiam sejenak, mendengarkan teachernya
bercerita tentang Maha Rahimnya Allah SWT kepada manusia.
“Sejak umur 4 bulan di dalam kandungan, calon manusia
bumi sudah bisa merasakan sesuatu. Manusia dapat merasakan segala sesuatu,
karena Allah mengkaruniakan kita indera perasa dan peraba. Begitulah manusia
menjadi makhluk yang paling bahagia. Bayangkan jika lidah kita tidak bisa
merasa, makanan atau minuman apapun yang lewat tidak akan nikmat. Tidak memilah
makanan restoran yang mahal atau warteg yang murah meriah, tidak memilih
minuman cafe atau warung kopi pinggir jalan,
tidak bisa membedakan mana air tawar atau asin, mana air panas atau
dingin, semuanya sama rasanya. Beda jika lidah kita bisa merasa...nikmat sekali.
Bayangkan jika kulit tubuh kita tidak bisa meraba, terguyur air hujan tidak
terasa, tersengat matahari tidak panas padahal sudah hangus terbakar. Beda jika
kulit tubuh kita bisa meraba, dapat mengetahui mana yang kasar, mana yang
halus, semuanya terasa indah. Ayo coba kita praktikkan!”
Teteh dan Aa
mencoba mempraktikkan karunia Allah tersebut dengan cara meraba pipi
masing-masing, “ayo coba, halus atau
kasar pipinya nak? Kemudian raba tembok ya...halus atau kasar permukaannya?,
kemudian bandingkan antara pipi kamu dan tembok, mana yang lebih halus atau
kasar?”
Terakhir teacher
menugaskan teteh dan aa mencari tahu dan mencatat ciri-ciri benda dengan
merabanya, apakah permukaannya halus atau kasar.
Waktu penugasan sudah berjalan beberapa menit, terlihat
semua siswa sibuk meraba-raba benda di sekitar sekolah dengan telapak
tangannya. Di saat yang bersamaan Teteh Naila dan Teteh Mutia menghampiri
teacher (saya) dan tidak lupa membawa pensil dan lembar catatannya. Awalnya
saya mengira mereka akan menunjukkan hasil tugasnya, setelah jarak mereka
sangat dekat dengan saya, Teteh Naila mulai menggunakan telapak tangannya untuk
“mengusap-usap” pipi saya (awas jangan porno). Sontak saya pun bertanya kepada
mereka “bagaimana teteh, permukaan pipi
teacher halus (jawaban yang saya harapkan) atau kasar (tidak diharapkan)?.
Mereka menjawab : “nggak teacher, pipinya
berminyak, iya minyak goreng”. “alamak, separah itukah pipi saya” sambil
tersenyum bangga kepada mereka dan hampir tidak percaya dengan pipi saya, merekapun
berlalu.