Sabtu, 31 Januari 2015

MANDIRI SEJAK DINI

Mandiri merupakan kata yang tertulis pada visi SD Chandra Buana. Salah satu kegiatan yang mengaplikasikan kemandirian yaitu dengan belajar praktik memakai baju sendiri. Memakai baju mungkin saja bukan hal yang spesial bagi orang tua. Tapi ketika kita melihat anak-anak memakai baju sendiri ada pemandangan yang unik, dan luar biasa, bahkan bisa menimbulkan kegelian bagi yang melihatnya.
Sejak awal pembelajaran siswa sudah bertanya-tanya kapan pakaian yang dibawanya akan dipakai dan untuk apa, mereka tidak sabar menunggu. Praktik memakai baju kali ini dengan cara dilombakan. Siswa dibagi 2 kelompok. Siswa memberikan semangat kepada temannya yang berlomba secara bergantian dari masing-masing kelompok. Sorak gembira dan suara tepuk tangan menambah riuh suasana. Seru...lucu… ada siswa yang salah mengancingkan baju, ada yang susah untuk memakaikan kancing celana, tapi mereka tetap bersemangat dan kompak. Keseruan tidak hanya sampai disitu, mereka tertawa geli ketika aa Fauzan dipakaikan rok. Ternyata...lucunya aa Fauzan kalau memakai rok, ia memakai rok sampai lehernya. Terdapat pembelajaran yang berharga dari keseruan yang terjadi. Selain belajar mandiri, merekapun bertambah yakin kalau rok memang tidak pantas dipakai laki-laki...hehehe...

MENGENAL TATA TERTIB BERKENDARA DEMI KESELAMATAN

Bermain sepeda merupakan pengalaman yang menyenangkan. Setiap anak tentu mempunyai pengalaman yang berbeda-beda, bagaimana ia mulai mengenal sepeda, mulai menaiki sampai mahir bersepeda, dan kejadian-kejadian lucu atau pun pernah terjatuh dari sepeda. Semua itu menjadi cerita yang berkesan yang akan selalu diingat.

Hari ini siswa kelas 1 mengulang kembali kenangan mereka bersepeda. Melalui permainan imajinasi mereka memperagakan mengendarai sepeda. Yang lebih asyik, peragaan menggunakan latar cerita Adit, Sopo, dan Jarwo. Dimulai dengan mengajarkan siswa untuk menjaga keselamatan diri dengan cara menggunakan helm-terbuat dari koran bekas- dan melaksanakan peraturan di jalan raya dengan mengikuti rambu-rambu lalu lintas yang diarahkan oleh seorang siswa yang berperan sebagai pak polisi. Dengan memberikan arahan berupa kertas berwarna lampu lalu lintas dengan kode warna merah berarti pengendara harus berhenti dengan cara jongkok, warna kuning berarti pengendara harus hati-hati dengan cara berdiri untuk bersiap-siap berangkat, dan warna hijau berarti siswa dipersilahkan untuk mengendarai sepedanya. Merekapun harus berjalan dengan posisi di sebelah kiri. Permainan bertambah asyik ketika aa Basim berteriak minta tolong, ia berpura-pura mengalami kecelakaan dengan tergeletak di lantai. Seluruh siswa berkumpul dan berusaha menyelamatkan aa Basim dengan cara menggotongnya secara bersama. Seru dan sekaligus memberikan pengalaman yang berharga untuk kehidupan mereka kelak.