Senin, 09 Maret 2015

MAU JADI GENERASI BOS ATAU ANAK BUAH?

Apa orientasi anda sebagai orang tua dalam memilih sekolah untuk anak-anak kita?
Sejatinya, setelah keluarga, sekolah merupakan pemberi kontribusi yang besar dalam mencetak karakter buah hati kita melalui proses yang berjenjang dan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Setelah buah hati kita melalui berbagai proses pembelajaran di sekolah, apa yang nantinya kita harapkan ketika mereka dewasa? apakah menginginkan mereka mampu menemukan dan menciptakan sesuatu?, atau berharap mereka mampu bekerja di perusahaan ternama dengan gaji yang besar?

Bahwasanya terdapat 2 model sistem pendidikan yang dianut oleh sekolah-sekolah di Indonesia yang sangat berpengaruh dalam menumbuhkan karakter anak-anak, yaitu sekolah dengan sistem pendidikan yang mencetak generasi owner (bos) dan generasi specialist (tenaga ahli). Ada perbedaan yang signifikan dari 2 model sekolah ini, yaitu:
1. Generasi owner
Sekolah yang menganut sistem pendidikan ini tidak menggunakan tes dalam menerima calon siswanya, karena menganggap semua anak memiliki kecerdasan masing-masing yang beragam dan tidak bisa diukur oleh sebuah tes konvensional; proses pembelajarannya menggunakan multistrategi yang diterapkan berdasarkan gaya belajar siswa; pembelajaran tidak membosankan karena dikemas dengan suasana bermain yang menyenangkan; memperhatikan semua aspek dalam penilaian seperti: aspek spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan; tidak mengenal peringkat atau rangking yang bisa menimbulkan persaingan antar siswa, justru siswa terbiasa berbagi, bekerjasama, saling menghargai, dan karakter-karakter lainnya.
2. Genersasi specialist/tenaga ahli
Sedangkan sekolah yang menganut sistem pendidikan ini menggunakan tes dalam menerima calon siswanya, jika hasil tesnya tidak mencapai nilai minimal maka calon siswa diterima dengan syarat atau bahkan tidak diterima; proses pembelajaran tidak menggunakan pendekatan berdasarkan gaya belajar siswa, justru siswa mau tidak mau, suka tidak suka harus mengikuti gaya belajar guru; pembelajaran terlihat serius karena jarang dikemas dengan suasana bermain; metode yang digunakan lebih sering menghafal, drilling, dan isian soal-soal; penilaian lebih mengutamakan aspek pengetahuan berupa angka-angka yang menjadi acuan untuk menentukan peringkat atau rangking sehingga siswa sering berlomba untuk menjadi yang terbaik dan menimbulkan persaingan.

Jika kita memilih sekolah dengan model sistem pendidikan generasi owner, maka anak-anak kita akan belajar menemukan jati dirinya sehingga kelak mampu menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan umat manusia. Mereka akan menjadi “bos” di dalam kehidupannya. Akan tetapi jika kita memilihkan sekolah dengan model sistem pendidikan generasi specialist/tenaga ahli, kelak anak-anak kita akan menjadi pekerja keras yang bekerja atas perintah orang lain, dan hanya akan menjadi “anak buah” dalam kehidupannya. Saat ini, pilihan untuk masa depan anak-anak ada di tangan kita orang tua mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar