Rabu, 10 September 2014

TIDAK LAGI...

Setiap siswa mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda. Keluarga yang merupakan sekolah pertama mereka dan lingkungan di mana mereka tinggal untuk berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya memberikan pengaruh yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Karena mereka dengan cepat dapat menyerap dan mencontoh semua informasi yang mereka terima. Anak-anak bersifat kongkrit, mereka belum bisa memilih antara yang baik dan yang kurang baik, segala yang mereka lihat dan dengar, itulah yang mereka contoh. Namun di sisi lain, mereka mempunyai daya imajinasi yang tinggi, boleh dikatakan mimpi bagi orang dewasa, bisa menjadi nyata bagi mereka.

Di kelas kami ada seorang anak yang istimewa, sebut saja A. A mempunyai kebiasaan yang kurang baik, yaitu suka buang air kecil di tempat yang bukan semestinya. Ketika ia kebelet, di situlah ia mulai beraksi. Pernah beberapa kali karyawan sekolah melihat A sedang buang air kecil sambil berjalan dan langsung diingatkan. Tidak sampai di situ, esoknya ketika jam snack time saya pun melihat pemandangan itu, A buang air kecil di pagar sekolah. Tentu saja saya langsung mengingatkannya juga dan memberikan pemahaman kepada A bahwa perbuatan itu kurang baik. Saya minta A berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Saya harap A memegang janjinya untuk tidak mengulanginya lagi. Tetapi nasihat dan teguran yang berulang kali tidak membuat A meninggalkan kebiasaannya itu. Esoknya, salah seorang guru melihatnya masih beraksi sambil berjalan. What is something wrong? Saya berpikir, kebiasaan A itu harus segera dihilangkan, karena akan berdampak buruk untuk dirinya sendiri dan teman-temannya.

Dalam sebuah kesempatan ketika makan siang bersama di bawah pohon yang rindang, tidak sengaja saya duduk berhadapan dengan A. Entah dari mana datangnya ide yang datang tiba-tiba di benak saya. Saya menawarkan diri kepada A untuk bercerita, “A, teacher punya cerita, A dengar ya...”, si A dengan antusias menjawab “Mau, mau, teacher, cerita apa?”. Tidak berpikir lama, saya khawatir kesempatan ini akan hilang, saya mulai bercerita.

 “ada seorang anak kecil yang sering pipis tidak di toilet. Dia suka pipis sambil berjalan, di bawah pohon, di dekat pagar, dan tidak peduli banyak orang dan binatang kecil yang tidak terlihat di sekelilingnya. Suatu hari, ia sudah kebelet pipis. Dengan santainya ia mulai pipis di bawah pohon...”suerr...”, ternyata ia tidak menyadari ada binatang kecil yang terkena air pipisnya. Para binatang kecil yang terdiri dari semut dan ulat berbicara dengan bahasanya “Aduuhh, siapa yang pipis sembarangan, badanku jadi bau nih..” kata semut. “iya, siapa sih orang yang tega membuat badanku gatal-gatal” timpal si ulat. (si A ketawa mendengarnya). Malam harinya anak tersebut bermimpi dalam tidurnya, ia didatangi makhluk yang tidak asing yaitu semut dan ulat. Tetapi yang membuat anak ini ketakutan, semut dan ulat bertubuh raksasa. Semut berkata “Hei...kamu anak kecil, kamu sudah membuat badan kami gatal dan bau, kamu harus bertanggung jawab”. Anak tersebut tidak mengerti apa yang terjadi, maka si ulat memberitahunya “Hai...anak kecil, tadi siang kamu sudah pipis di bawah pohon padahal kami sedang beristirahat di bawahnya. Kenapa kamu pipis sembarangan? Padahal banyak teman-teman kami di atas tanah..”. si anak kecil  baru menyadari kesalahannya dan berkata kepada si semut dan ulat “Maafkanlah aku wahai semut dan ulat...aku tidak tahu ternyata kalian dan teman-teman kalian ada di atas tanah. Aku berjanji tidak akan pipis sembarangan lagi. Aku akan pipis di toilet, maafkan aku yaa..”. Semut dan ulat berkata “baiklah kali ini kami maafkan, tapi kamu harus berjanji tidak mengulangi lagi ya...”, “Iya aku berjanji” jawab si anak. Demikianlah, akhirnya si anak kecil itu selalu pipis di toilet.


Alhamdulillah, setelah mendengar cerita di atas, si A sudah tidak terlihat buang air kecil di segala tempat. Senyum saya kembali mengembang bukan karena saya pandai bercerita, tetapi karena A memiliki kecerdasan intrapersonal yang baik, sehingga melalui cerita si A dapat mengoreksi dirinya. Yang lebih berkesan lagi si A minta kembali diceritakan tentang kisah tersebut. Saya berdoa semoga A menjadi anak yang soleh dan menjadi pribadi yang sopan dan santun, amiin.

more please click MY MOMENTS

Selayang Pandang

Selamat Datang di Blog SANG PEMBELAJAR,
Blog ini adalah catatan pribadi penulis. Di dalamnya terdapat berbagai pengalaman unik dan menarik sekitar dunia pendidikan selama penulis menjadi "sang pembelajar". "Sang Pembelajar" penulis sematkan sebagai identitas diri, agar selalu termotivasi untuk selalu belajar selama Allah SWT memberikan kesempatan yang tak ternilai harganya, yaitu berbagai karunia-Nya.

Saat ini penulis bekerja sebagai seorang pendidik di SD Chandra Buana Bogor. Sekolah yang berkonsep humanism school, di mana semua anak memperoleh penghargaan yang sama karena mereka semua generasi "HEBAT", tidak ada tes masuk, tidak ada klasifikasi siswa yang jenius dan yang low,  tidak ada siswa yang bodoh, karena tidak ada produk Tuhan yang "Gagal", yang ada adalah karena kita belum menemukan permata yang terpendam dalam diri setiap anak. Di sekolah yang unik bersama anak-anak yang unik, sejarah hebat penulis dimulai.

Bertemu dengan siswa-siswi yang unik setiap hari menjadi special moment bagi penulis. Sayang rasanya jika pengalaman aneh, unik, terkadang menggelitik hati yang jarang di rasakan oleh sebagian guru di negeri ini hilang begitu saja tanpa penulis abadikan. Oleh karenanya penulis ingin berbagi dengan orang lain. Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua para orang tua, pendidik, masyarakat, lembaga pendidikan swasta dan pemerintah di daerah maupun pusat, perkampungan maupun perkotaan agar tidak ada lagi kesenjangan dalam memperlakukan siswa-siswi generasi bangsa ini.

Akhir kata, penulis bukanlah sosok yang sempurna keilmuannya, tetapi hanya ingin belajar dan berbagi. Semoga Allah SWT menjadikan media ini sebagai ladang penulis untuk menyemai, menanam, dan memanen masa depan yang terbaik, amin.

Kunjungi juga "Sekolahnya Manusia" di www.sekolahchandrabuana.com

Senin, 08 September 2014

"Surat dari Rasulullah SAW"

Anak-anak usia dini memang unik dan terkadang tanpa sadar telah membuat kita  tersenyum. Karena kepolosan sekaligus kecerdasan yang Allah SWT karuniakan menyimpan sesuatu yang berharga yang kelak akan berguna ketika mereka sudah dewasa. Ada saja ulah mereka yang tidak pernah kita sangka…dan…ya memang itulah anak-anak.

Dalam satu pertemuan pembelajaran di kelas, Saya memberikan materi tentang Kasih Sayang Nabi Muhammad SAW. Pada penghujung pembelajaran, ada kegiatan membaca Solawat Badar. Saya menyampaikan kepada mereka bahwa dengan membaca Solawat Badar berarti kita telah mendoakan Rasulullah SAW. Saya merasa belum lengkap rasanya jika penyampaian pembelajaran hari itu tidak ada klimaksnya. Akhirnya, sebagai penutup Saya membacakan “Surat dari Rasulullah SAW” yang saya karang sendiri secara tiba-tiba. Saya ambil selembar kertas kosong, dan mulai membaca tanpa tulisan sedikitpun di atas kertas tersebut, isi suratnya: “Assalamu’alaikum Wr. Wb., anak-anak yang hebat dan soleh, terima kasih kalian sudah bersikap kasih dan sayang terhadap sesama, sudah mau menolong dan berbagi dengan orang lain. Semoga Allah SWT selalu menyayangi kalian. Wassalamualaikum Wr. Wb.” Anak-anak terdiam menyimak saya membacakan surat itu, meskipun mereka tahu bahwa tidak ada tulisan apapun di atasnya.

Selang beberapa menit, saat waktu snack time hampir selesai, seorang siswa menghampiri saya, Dimas namanya. Dengan semangatnya ia berkata “Teacher, ada surat untuk Teacher” sambil memberikan kertas yang sudah ia lipat. “Terima kasih ya Dimas, nanti Teacher baca ya” jawab Saya. Penasaran dengan surat itu, Saya langsung membuka lipatan kertasnya. Sekilas tidak ada yang istimewa, isinya adalah tulisan tangan Dimas sendiri. Setelah saya baca, ada yang unik…dan saya tersenyum bangga, ternyata Dimas memberikan respon yang baik terhadap materi yang saya sampaikan. Suratnya berisi ucapan “Terima kasih dari Rasulullah SAW”, redaksinya: “Anak-anak yang baik, terima kasih sudah membacakan Solawat Badar, semoga kalian masuk surga semuanya, amin”.


Dalam pikiran saya berkata “apalagi yang ada dalam benak kalian nak, Teacher menunggu untuk selalu tersenyum”.

Sabtu, 06 September 2014

Mengenalkan sikap kasih sayang melalui permainan "Bom Meledak"

Palestina berduka adalah berita yang disuguhkan hampir setiap hari. Anak-anak sering melihat tayangan berbagai macam korban dengan kondisi yang mengenaskan. Tayangan yang demikian sangat miris bagi anak-anak yang masih polos. Mereka belum dapat memahami sisi positif dan negatif dari berita yang mereka peroleh. Tentu saja sudah menjadi kewajiban kita semua untuk memberikan pemahaman yang cukup tentang nilai-nilai dari peristiwa tersebut. Akan tetapi, kita terkadang mempunyai keterbatasan untuk memberikan informasi yang benar dengan cara yang sesuai kondisi psikologinya dan tidak mungkin menjauhkan anak dari informasi yang demikian cepat melalui berbagai media.

Salah satu cara/metode yang pernah penulis gunakan bisa menjadi referensi kita para pendidik untuk memberikan informasi yang benar bagi anak-anak sekaligus dikaitkan dengan indikator pembelajaran di kelas.

Informasi tentang korban palestina penulis kaitkan dengan materi Kasih Sayang Nabi Muhammad. Di mana siswa melakukan aktivitas tambahan melalui permainan "Bom Meledak". Penulis sampaikan bahwa salah satu sikap kasih sayang adalah dengan menolong korban "Bom Meledak". Adapun aturan permainan sebagai berikut:
1. Siswa dibagi peran. Ada yang menjadi relawan, dokter, dan korban.
2. Korban adalah orang yang terkena "bom". Suara bom bisa menggunakan mulut dengan pengeras suara.
3. Relawan bertugas menyelamatkan para korban dengan menggotong, menggandeng, dan     sebagainya.
4. Dokter bertugas memeriksa dan mengobati para korban.
5. Permainan bisa dilakukan di ruangan indoor karena para korban nanti ada yang merangkak, jongkok, tiarap dan sebagainya.

Permainan dimulai dari guru sebagai "Komandan" memerintahkan sekelompok siswa untuk menuju sebuah lokasi penyelamatan. Di lokasi tersebut, siswa terkena "bom" dan menjadi korban dengan gayanya masing-masing menggambarkan kondisi yang terjadi. Kemudian relawan datang menolong untuk menyelamatkan dengan cara menggotong, menggandeng, mendukung dan lain sebagainya. Setelah korban di bawa ke lokasi aman, mereka diperiksa dan diberikan perawatan dan pengobatan oleh para dokter yang bertugas. Permainan dilakukan sampai seluruh siswa bisa bergantian memerankan perannya.  

Pengalaman penulis ketika menggunakan permainan ini, sangat unik, asyik, dan siswa tidak merasa mereka sedang belajar. Bahkan ada beberapa siswa yang meminta bermain kembali. Tentu saja Guru harus memberikan penguatan tentang sikap kasih sayang yang harus dipahami siswa. Penulis meyakini, masih banyak strategi pembelajaran yang lebih unik dan mengasyikan yang bisa kita lakukan.