Setiap siswa mempunyai latar
belakang kehidupan yang berbeda. Keluarga yang merupakan sekolah pertama mereka
dan lingkungan di mana mereka tinggal untuk berinteraksi dengan orang-orang di
sekelilingnya memberikan pengaruh yang tidak dapat dipandang sebelah mata.
Karena mereka dengan cepat dapat menyerap dan mencontoh semua informasi yang
mereka terima. Anak-anak bersifat kongkrit, mereka belum bisa memilih antara
yang baik dan yang kurang baik, segala yang mereka lihat dan dengar, itulah yang
mereka contoh. Namun di sisi lain, mereka mempunyai daya imajinasi yang tinggi,
boleh dikatakan mimpi bagi orang dewasa, bisa menjadi nyata bagi mereka.
Di kelas kami ada seorang anak
yang istimewa, sebut saja A. A mempunyai kebiasaan yang kurang baik, yaitu suka
buang air kecil di tempat yang bukan semestinya. Ketika ia kebelet, di situlah ia mulai beraksi. Pernah beberapa kali karyawan
sekolah melihat A sedang buang air kecil sambil berjalan dan langsung
diingatkan. Tidak sampai di situ, esoknya ketika jam snack time saya pun melihat pemandangan itu, A buang air kecil di
pagar sekolah. Tentu saja saya langsung mengingatkannya juga dan memberikan
pemahaman kepada A bahwa perbuatan itu kurang baik. Saya minta A berjanji untuk
tidak mengulanginya lagi.
Saya harap A memegang janjinya
untuk tidak mengulanginya lagi. Tetapi nasihat dan teguran yang berulang kali
tidak membuat A meninggalkan kebiasaannya itu. Esoknya, salah seorang guru
melihatnya masih beraksi sambil
berjalan. What is something wrong?
Saya berpikir, kebiasaan A itu harus segera dihilangkan, karena akan berdampak
buruk untuk dirinya sendiri dan teman-temannya.
Dalam sebuah kesempatan ketika
makan siang bersama di bawah pohon yang rindang, tidak sengaja saya duduk
berhadapan dengan A. Entah dari mana datangnya ide yang datang tiba-tiba di
benak saya. Saya menawarkan diri kepada A untuk bercerita, “A, teacher punya
cerita, A dengar ya...”, si A dengan antusias menjawab “Mau, mau, teacher,
cerita apa?”. Tidak berpikir lama, saya khawatir kesempatan ini akan hilang,
saya mulai bercerita.
“ada seorang anak kecil yang sering
pipis tidak di toilet. Dia suka pipis sambil berjalan, di bawah pohon, di dekat
pagar, dan tidak peduli banyak orang dan binatang kecil yang tidak terlihat di
sekelilingnya. Suatu hari, ia sudah kebelet pipis. Dengan santainya ia mulai
pipis di bawah pohon...”suerr...”, ternyata ia tidak menyadari ada binatang
kecil yang terkena air pipisnya. Para binatang kecil yang terdiri dari semut
dan ulat berbicara dengan bahasanya “Aduuhh, siapa yang pipis sembarangan, badanku
jadi bau nih..” kata semut. “iya, siapa sih orang yang tega membuat badanku
gatal-gatal” timpal si ulat. (si A ketawa mendengarnya). Malam harinya anak
tersebut bermimpi dalam tidurnya, ia didatangi makhluk yang tidak asing yaitu
semut dan ulat. Tetapi yang membuat anak ini ketakutan, semut dan ulat bertubuh
raksasa. Semut berkata “Hei...kamu anak kecil, kamu sudah membuat badan kami
gatal dan bau, kamu harus bertanggung jawab”. Anak tersebut tidak mengerti apa
yang terjadi, maka si ulat memberitahunya “Hai...anak kecil, tadi siang kamu
sudah pipis di bawah pohon padahal kami sedang beristirahat di bawahnya. Kenapa
kamu pipis sembarangan? Padahal banyak teman-teman kami di atas tanah..”. si
anak kecil baru menyadari kesalahannya
dan berkata kepada si semut dan ulat “Maafkanlah aku wahai semut dan ulat...aku
tidak tahu ternyata kalian dan teman-teman kalian ada di atas tanah. Aku berjanji
tidak akan pipis sembarangan lagi. Aku akan pipis di toilet, maafkan aku yaa..”.
Semut dan ulat berkata “baiklah kali ini kami maafkan, tapi kamu harus berjanji
tidak mengulangi lagi ya...”, “Iya aku berjanji” jawab si anak. Demikianlah,
akhirnya si anak kecil itu selalu pipis di toilet.
Alhamdulillah, setelah mendengar cerita
di atas, si A sudah tidak terlihat buang air kecil di segala tempat. Senyum saya
kembali mengembang bukan karena saya pandai bercerita, tetapi karena A memiliki
kecerdasan intrapersonal yang baik, sehingga melalui cerita si A dapat
mengoreksi dirinya. Yang lebih berkesan lagi si A minta kembali diceritakan
tentang kisah tersebut. Saya berdoa semoga A menjadi anak yang soleh dan
menjadi pribadi yang sopan dan santun, amiin.
more please click MY MOMENTS
more please click MY MOMENTS
