Sejatinya, setelah keluarga, sekolah merupakan pemberi kontribusi yang
besar dalam mencetak karakter buah hati kita melalui proses yang berjenjang dan
membutuhkan waktu yang tidak singkat. Setelah buah hati kita melalui berbagai
proses pembelajaran di sekolah, apa yang nantinya kita harapkan ketika mereka
dewasa? apakah menginginkan mereka mampu menemukan dan menciptakan sesuatu?,
atau berharap mereka mampu bekerja di perusahaan ternama dengan gaji yang
besar?
Bahwasanya terdapat 2 model sistem pendidikan yang dianut oleh
sekolah-sekolah di Indonesia yang sangat berpengaruh dalam menumbuhkan karakter
anak-anak, yaitu sekolah dengan sistem pendidikan yang mencetak generasi owner
(bos) dan generasi specialist (tenaga ahli). Ada perbedaan yang signifikan dari
2 model sekolah ini, yaitu:
1. Generasi owner
Sekolah yang menganut
sistem pendidikan ini tidak menggunakan tes dalam menerima calon siswanya,
karena menganggap semua anak memiliki kecerdasan masing-masing yang beragam dan
tidak bisa diukur oleh sebuah tes konvensional; proses pembelajarannya
menggunakan multistrategi yang diterapkan berdasarkan gaya belajar siswa;
pembelajaran tidak membosankan karena dikemas dengan suasana bermain yang
menyenangkan; memperhatikan semua aspek dalam penilaian seperti: aspek
spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan; tidak mengenal peringkat atau
rangking yang bisa menimbulkan persaingan antar siswa, justru siswa terbiasa
berbagi, bekerjasama, saling menghargai, dan karakter-karakter lainnya.
2. Genersasi specialist/tenaga ahli
Sedangkan sekolah yang
menganut sistem pendidikan ini menggunakan tes dalam menerima calon siswanya,
jika hasil tesnya tidak mencapai nilai minimal maka calon siswa diterima dengan
syarat atau bahkan tidak diterima; proses pembelajaran tidak menggunakan
pendekatan berdasarkan gaya belajar siswa, justru siswa mau tidak mau, suka
tidak suka harus mengikuti gaya belajar guru; pembelajaran terlihat serius
karena jarang dikemas dengan suasana bermain; metode yang digunakan lebih
sering menghafal, drilling, dan isian soal-soal; penilaian lebih mengutamakan
aspek pengetahuan berupa angka-angka yang menjadi acuan untuk menentukan
peringkat atau rangking sehingga siswa sering berlomba untuk menjadi yang
terbaik dan menimbulkan persaingan.