Bagi seorang anak
sosok orang tua adalah orang yang pertama kali menjadi panutan dan mampu
menumbuhkan semangatnya ketik down. Sudah
beberapa kali saya mendapatkan “curhat” dari seorang siswa yang menyatakan
kerinduannya pada sosok ayah. Meskipun sehari-hari terlihat riang, tetapi ternyata di dalam hatinya
ia mempunyai mimpi yang membuatnya selalu menangis. Mimpinya hanya satu, yaitu
ingin bertemu ayah.
Kali ini ia memberikan “surat kecil untuk ayahnya” agar saya membacakan
di depan teman-temannya. Beberapa kali ia mengingatkan saya, rupanya ia
khawatir saya lupa membacakan surat tersebut. Hati siapa yang tidak pilu
mendengar permintaan seorang anak yang merindukan ayahnya. Begitupun dengan
perasaan saya saat itu, dan ingin rasanya saya menjadi ayahnya di sekolah.
Kebetulan materi pembelajaran saat itu tentang pola bangun datar. Saya
mulai bercerita dengan menggunakan pendekatan pola 
Kemudian saya melanjutkan ceritanya, “nak awan tersebut ternyata sedang
mencari ayahnya. Ia rindu sekali kepada ayahnya yang sudah lama tidak berjumpa.
Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan ia menahan keinginannya. Mari
kita doakan semoga sang awan dapat segera bertemu ayah yang dirindukannya.
Al-Fatihah…” serentak seluruh siswa membaca surah Al-Fatihah.
Di penghujung cerita, terlihat ada seorang siswa yang sedang
berkaca-kaca dan segera saja air matanya mengalir, ia adalah awan itu. Kembali hati saya
terperangkap dalam pilu sang anak, saya bisa merasakan suasana hatinya saat
itu. Sambil mengelus kepalanya, tidak banyak yang bisa saya ucapkan waktu itu, hanya
ungkapan “sabar ya nak, ayahmu pasti ingin segera bertemu kamu juga”.
Tulisan ini tidak bermaksud ditujukan kepada seseorang, tetapi hanya
untuk mengingatkan saya pribadi bahwa saya mempunyai tanggung jawab terhadap
anak-anak saya di rumah dan di sekolah. Sebagai seorang pendidik sudah
seharusnya saya, kita, bisa menjadi ayah/ibu bagi siswa-siswa kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar