Selasa, 05 Mei 2015

SURAT KECIL UNTUK AYAH

Bagi seorang anak sosok orang tua adalah orang yang pertama kali menjadi panutan dan mampu menumbuhkan semangatnya ketik down. Sudah beberapa kali saya mendapatkan “curhat” dari seorang siswa yang menyatakan kerinduannya pada sosok ayah. Meskipun sehari-hari terlihat riang, tetapi ternyata di dalam hatinya ia mempunyai mimpi yang membuatnya selalu menangis. Mimpinya hanya satu, yaitu ingin bertemu ayah.

Kali ini ia memberikan “surat kecil untuk ayahnya” agar saya membacakan di depan teman-temannya. Beberapa kali ia mengingatkan saya, rupanya ia khawatir saya lupa membacakan surat tersebut. Hati siapa yang tidak pilu mendengar permintaan seorang anak yang merindukan ayahnya. Begitupun dengan perasaan saya saat itu, dan ingin rasanya saya menjadi ayahnya di sekolah. 

Kebetulan materi pembelajaran saat itu tentang pola bangun datar. Saya mulai bercerita dengan menggunakan pendekatan pola
Ada sebuah awan yang sedang berjalan perlahan; ia bergerak ke arah kanan; kemudian ia bergerak ke arah kiri; lalu bergerak ke arah bawah;  dan ia pun bergerak ke atas.  Seperti ada yang ia cari, sang awan pun kembali mengulanginya. Semua siswa menebak gerak sang awan selanjutnya seperti pola di atas, dan hampir seluruh siswa menjawab dengan benar.

Kemudian saya melanjutkan ceritanya, “nak awan tersebut ternyata sedang mencari ayahnya. Ia rindu sekali kepada ayahnya yang sudah lama tidak berjumpa. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan ia menahan keinginannya. Mari kita doakan semoga sang awan dapat segera bertemu ayah yang dirindukannya. Al-Fatihah…” serentak seluruh siswa membaca surah Al-Fatihah. 

Di penghujung cerita, terlihat ada seorang siswa yang sedang berkaca-kaca dan segera saja air matanya mengalir, ia adalah awan itu. Kembali hati saya terperangkap dalam pilu sang anak, saya bisa merasakan suasana hatinya saat itu. Sambil mengelus kepalanya, tidak banyak yang bisa saya ucapkan waktu itu, hanya ungkapan “sabar ya nak, ayahmu pasti ingin segera bertemu kamu juga”.
Tulisan ini tidak bermaksud ditujukan kepada seseorang, tetapi hanya untuk mengingatkan saya pribadi bahwa saya mempunyai tanggung jawab terhadap anak-anak saya di rumah dan di sekolah. Sebagai seorang pendidik sudah seharusnya saya, kita, bisa menjadi ayah/ibu bagi siswa-siswa kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar