Anak-anak usia dini memang unik dan terkadang tanpa sadar
telah membuat kita tersenyum. Karena
kepolosan sekaligus kecerdasan yang Allah SWT karuniakan menyimpan sesuatu yang
berharga yang kelak akan berguna ketika mereka sudah dewasa. Ada saja ulah
mereka yang tidak pernah kita sangka…dan…ya memang itulah anak-anak.
Dalam satu pertemuan pembelajaran di kelas, Saya memberikan
materi tentang Kasih Sayang Nabi Muhammad SAW. Pada penghujung pembelajaran,
ada kegiatan membaca Solawat Badar. Saya menyampaikan kepada mereka bahwa dengan
membaca Solawat Badar berarti kita telah mendoakan Rasulullah SAW. Saya merasa belum lengkap rasanya jika penyampaian
pembelajaran hari itu tidak ada klimaksnya. Akhirnya, sebagai penutup Saya
membacakan “Surat dari Rasulullah SAW” yang saya karang sendiri secara
tiba-tiba. Saya ambil selembar kertas kosong, dan mulai membaca tanpa tulisan
sedikitpun di atas kertas tersebut, isi suratnya: “Assalamu’alaikum Wr. Wb., anak-anak
yang hebat dan soleh, terima kasih kalian sudah bersikap kasih dan sayang
terhadap sesama, sudah mau menolong dan berbagi dengan orang lain. Semoga Allah
SWT selalu menyayangi kalian. Wassalamualaikum Wr. Wb.” Anak-anak terdiam
menyimak saya membacakan surat itu, meskipun mereka tahu bahwa tidak ada
tulisan apapun di atasnya.
Selang beberapa menit, saat waktu snack time hampir selesai, seorang siswa menghampiri saya, Dimas
namanya. Dengan semangatnya ia berkata “Teacher, ada surat untuk Teacher”
sambil memberikan kertas yang sudah ia lipat. “Terima kasih ya Dimas, nanti
Teacher baca ya” jawab Saya. Penasaran dengan surat itu, Saya langsung membuka
lipatan kertasnya. Sekilas tidak ada yang istimewa, isinya adalah tulisan
tangan Dimas sendiri. Setelah saya baca, ada yang unik…dan saya tersenyum
bangga, ternyata Dimas memberikan respon yang baik terhadap materi yang saya
sampaikan. Suratnya berisi ucapan “Terima kasih dari Rasulullah SAW”, redaksinya:
“Anak-anak yang baik, terima kasih sudah membacakan Solawat Badar, semoga
kalian masuk surga semuanya, amin”.
Dalam pikiran saya berkata “apalagi yang ada dalam benak
kalian nak, Teacher menunggu untuk selalu tersenyum”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar